Soal UAS Sejarah Sastra

Ujian Akhir Semester

Petunjuk:

Jumlah soal yang harus dijawb sbanyak 15 soal

Karena UAS ini Anda kerjakan dirumah, jawabannya diterima dosen penguji pada hari akhir UAS

Buku Sumber::

a. ayip rosidi,1964,kapankah kesusastraan indonesia lahir?Jakarta : bhatara

b. Jassin, h.b, 1963,pujangga baru ,jakarta ; gunung agung

c. jakob, sumohardjo,1992,lintasan sastra indonesia modern I.

d. yudiono K.S

Sejarah Sastra::

1. Buatlah bagan perkembangan pemikiran para pakar sastra tentang periodisasi sejarah sastra indonesia selama ini!

2. Buktikanlah bahwa Sastra Indonesia itu sebenarnya baru lahir pada masa Pujangga Baru bila dilihat dari isi karya sastra, bahasa yang dipaakai,berikut contoh-contohnya

3. Kemukakan bagaimana pendapat Anda tentang keberadaan Sastra Melayu Rendah dalam perjalanan kesusastraan Indonesia Modern abad ke-20,berikan bukti-buktinya

4. Jelaskan secara singkat pentingnya periodisasi dalam penyusunan Sejarah Sastra Indonesia!

5. Cobalah Anda kemukakan pendapat Ayib Rosidi tentang kapan Kesusastraan Indonesia itu lahir dan sebutkan juga dasar pemikirannya tentang hal itu!

6. Kemukakanlah pengaruh pemikiran angkatan 80 negeri belanda pada aangkatan Pujangga Baru berikut perbedaannya dengan paham yang ada pada Angkatan 80 tersebut dengan menunjukkan bukti – buktiny!

7. Kemukakan Sutan Takdir Alisyahbana dan Sanusi Pane tentang kebudayaan Indonesia yang menimbulkan polemik yang dikenal dengan istilah Polemik Kebudayaan

8. Kemukakan secara ringkas perubahan yang terjadi dalam kehidupan sastra Indonesia semasa pendudukan jepang 1942-1945,tunjukkan juga bukti – buktinya!

9. Kemukakanlah apa korelasi antara surat kepercayaan gelanggang dan manifes kebudayaan?sebutkan juga tokoh – tokoh yang berkecimpung dalam kedua pendapat tersebut

10. Kemukakan intisari pendapat Jakop Sumardjo tentang 10 tahun majalaah Horison tentang perjalanan kesusastraan Indonesia

11. Jelaskan perbedaan antara sastra serius dan sastra populer menurut pemahaman anda

12. Anda mengenal realisme sosialis sebagai aliran sastra yang muncul tahun 1950an,coba kemukakan bagaimana aliran tersebut, mengapa umurnya hanya singkat saja?Jelaskan jawaban anda

13. Dimanca negara ditemui pusat pengkajian kebudayaan indonesia termasuk kajian kesusastraannya,cobalah kemukakan secara ringkas apa saja kegiatan yang dilakukan pusat kajian yang ada di

a. RRC

b. Jerman

14. Kemukakanlah segi positif penerbitan buku kumpulan cerpen pilihan kompas yang telah berjalan sejak tahun 1992 berikut bukti2nya

15. Gejala apa saja yang menandakan kebebasan berekspresi dalam sastra indonesia setelah reformasi?Jelaskan jawaban anda berikut bukti2nya.

 

Selamat mengerjakan!!!!punyeeeengggg pkok’e

Biografi Taufik Ismail

Taufiq Ismail lahir di Bukittinggi, 25 Juni 1935. Masa kanak-kanak sebelum sekolah dilalui di Pekalongan. Ia pertama masuk sekolah rakyat di Solo. Selanjutnya, ia berpindah ke Semarang, Salatiga, dan menamatkan sekolah rakyat di Yogya. Ia masuk SMP di Bukittinggi, SMA di Bogor, dan kembali ke Pekalongan. Pada tahun 1956–1957 ia memenangkan beasiswa American Field Service Interntional School guna mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Wisconsin, AS, angkatan pertama dari Indonesia

Ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Indonesia (sekarang IPB), dan tamat pada tahun1963. Pada tahun 1971–1972 dan 1991–1992 ia mengikuti International Writing Program, University of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Ia juga belajar pada Faculty of Languange and Literature, American University in Cairo, Mesir, pada tahun 1993. Karena pecah Perang Teluk, Taufiq pulang ke Indonesia sebelum selesai studi bahasanya.

Semasa mahasiswa Taufiq Ismail aktif dalam berbagai kegiatan. Tercatat, ia pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa FKHP UI (1960–1961) dan Wakil Ketua Dewan Mahasiswa (1960–1962).
Ia pernah mengajar sebagai guru bahasa di SMA Regina Pacis, Bogor (1963-1965), guru Ilmu Pengantar Peternakan di Pesantren Darul Fallah, Ciampea (1962), dan asisten dosen Manajemen Peternakan Fakultas Peternakan, Universitas Indonesia Bogor dan IPB (1961-1964). Karena menandatangani Manifes Kebudayaan, yang dinyatakan terlarang oleh Presiden Soekarno, ia batal dikirim untuk studi lanjutan ke Universitas Kentucky dan Florida. Ia kemudian dipecat sebagai pegawai negeri pada tahun 1964.

Taufiq menjadi kolumnis Harian KAMI pada tahun 1966-1970. Kemudian, Taufiq bersama Mochtar Lubis, P.K. Oyong, Zaini, dan Arief Budiman mendirikan Yayasan Indonesia, yang kemudian juga melahirkan majalah sastra Horison (1966). Sampai sekarang ini ia memimpin majalah itu.

Taufiq merupakan salah seorang pendiri Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM), dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) (1968). Di ketiga lembaga itu Taufiq mendapat berbagai tugas, yaitu Sekretaris Pelaksana DKJ, Pj. Direktur TIM, dan Rektor LPKJ (1968–1978). Setelah berhenti dari tugas itu, Taufiq bekerja di perusahaan swasta, sebagai Manajer Hubungan Luar PT Unilever Indonesia (1978-1990).

Pada tahun 1993 Taufiq diundang menjadi pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia.
Sebagai penyair, Taufiq telah membacakan puisinya di berbagai tempat, baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Dalam setiap peristiwa yang bersejarah di Indonesia Taufiq selalu tampil dengan membacakan puisi-puisinya, seperti jatuhnya Rezim Soeharto, peristiwa Trisakti, dan peristiwa Pengeboman Bali.

Hasil karya:

1. Tirani, Birpen KAMI Pusat (1966)
2. Benteng, Litera ( 1966)
3. Buku Tamu Musium Perjuangan, Dewan Kesenian Jakarta (buklet baca puisi) (1972)
4. Sajak Ladang Jagung, Pustaka Jaya (1974)
5. Kenalkan, Saya Hewan (sajak anak-anak), Aries Lima (1976)
6. Puisi-puisi Langit, Yayasan Ananda (buklet baca puisi) (1990)
7. Tirani dan Benteng, Yayasan Ananda (cetak ulang gabungan) (1993)
8. Prahara Budaya (bersama D.S. Moeljanto), Mizan (1995)
9. Ketika Kata Ketika Warna (editor bersama Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar, Amri Yahya, dan Agus Dermawan, antologi puisi 50 penyair dan repoduksi lukisan 50 pelukis, dua bahasa, memperingati ulangtahun ke-50 RI), Yayasan Ananda (1995)
10. Seulawah — Antologi Sastra Aceh (editor bersama L.K. Ara dan Hasyim K.S.), Yayasan Nusantara bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Khusus Istimewa Aceh (1995)
11. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Yayasan Ananda (199 8)
12. Dari Fansuri ke Handayani (editor bersama Hamid Jabbar, Herry Dim, Agus R. Sarjono, Joni Ariadinata, Jamal D. Rahman, Cecep Syamsul Hari, dan Moh. Wan Anwar, antologi sastra Indonesia dalam program SBSB 2001), Horison-Kakilangit-Ford Foundation (2001)
13. Horison Sastra Indonesia, empat jilid meliputi Kitab Puisi (1), Kitab Cerita Pendek (2), Kitab Nukilan Novel (3), dan Kitab Drama (4) (editor bersama Hamid Jabbar, Agus R. Sarjono, Joni Ariadinata, Herry Dim, Jamal D. Rahman, Cecep Syamsul Hari, dan Moh. Wan Anwar, antologi sastra Indonesia dalam program SBSB 2000-2001, Horison-Kakilangit-Ford Foundation (2002)

Karya terjemahan:
1. Banjour Tristesse (terjemahan novel karya Francoise Sagan, 1960)
2. Cerita tentang Atom (terjemahan karya Mau Freeman, 1962)
3. Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam (dari buku The Reconstruction of Religious Thought in Islam, M. Iqbal (bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad), Tintamas (1964)

Atas kerja sama dengan musisi sejak 1974, terutama dengan Himpunan Musik Bimbo (Hardjakusumah bersaudara), Chrisye, Ian Antono, dan Ucok Harahap, Taufiq telah menghasilkan sebanyak 75 lagu.

Ia pernah mewakili Indonesia baca puisi dan festival sastra di 24 kota di Asia, Amerika, Australia, Eropa, dan Afrika sejak 1970. Puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, Sunda, Bali, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan Cina.

Kegiatan kemasyarakatan yang dilakukannnya, antara lain menjadi pengurus perpustakaan PII, Pekalongan (1954-56), bersama S.N. Ratmana merangkap sekretaris PII Cabang Pekalongan, Ketua Lembaga Kesenian Alam Minangkabau (1984-86), Pendiri Badan Pembina Yayasan Bina Antarbudaya (1985) dan kini menjadi ketuanya, serta bekerja sama dengan badan beasiswa American Field Service, AS menyelenggarakan pertukaran pelajar. Pada tahun 1974–1976 ia terpilih sebagai anggota Dewan Penyantun Board of Trustees AFS International, New York.

Ia juga membantu LSM Geram (Gerakan Antimadat, pimpinan Sofyan Ali). Dalam kampanye antinarkoba ia menulis puisi dan lirik lagu “Genderang Perang Melawan Narkoba” dan “Himne Anak Muda Keluar dari Neraka” dan digubah Ian Antono). Dalam kegiatan itu, bersama empat tokoh masyarakat lain, Taufiq mendapat penghargaan dari Presiden Megawati (2002).

Kini Taufiq menjadi anggota Badan Pertimbangan Bahasa, Pusat Bahasa dan konsultan Balai Pustaka, di samping aktif sebagai redaktur senior majalah Horison.

Anugerah yang diterima:

1. Anugerah Seni dari Pemerintah RI (1970)
2. Cultural Visit Award dari Pemerintah Australia (1977)
3.South East Asia (SEA) Write Award dari Kerajaan Thailand (1994)
4. Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa (1994)
5. Sastrawan Nusantara dari Negeri Johor,
Malaysia (1999)
6. Doctor honoris causa dari Universitas Negeri Yogyakarta (2003)

Taufiq Ismail menikah dengan Esiyati Yatim pada tahun 1971 dan dikaruniai seorang anak laki-laki, Bram Ismail. Bersama keluarga ia tinggal di Jalan Utan Kayu Raya 66-E, Jakarta 13120.

No Title..

Jika kamu dengar gemuruh siang hari

Lalu merasa dekat dengan ku

Tapi masih tidak kau lihat aku di pikuk

Jika kamu dengar gaung di malam hari

Lalu merasa aku begitu jauh

Tapi masih tidak kau dengar aku di dalam mimpi

Jika kau dengar erang tuhan dalam mimpi

Lalu merasakanku hangat dalam jemari

Tapi masih tak bisa kau sentuh aku

Cukup berhenti

Jangan lihat kebelakang maupun cita

Cukup di sini dan ingat aku

Lupakan dia atau mereka

Lalu bernyanyilah lagu tentang suka

Jangan sebut sedikitpun rasa duka

Aku disana

Lebih dekat dari nadi jantungmu

Tak  perlu mata atau telinga

Karena aku tak terlihat maupun bersuar

Tak peduli siang atau malam

Setiap saat aku dapat ada

Bahkan angin mengalirpun mengerti

Cukup disini dan berhenti

Cukup berhenti dan hela nafas

Aku di sini di dalam hatimu

Haji Cerpen: Joni Ariadinata

 

 

Karena bukan cerita fiksi, maka tidak mungkin Haji Jupri kawin dengan Marsiti. Tapi entah kenapa, kisah ini kemudian berkembang menjadi ruwet. Bahkan, menjadi bahan perdebatan tak habis-habis di warung-warung, tegalan, pasar, hingga masjid. Mulanya sih hanya iseng. Suatu hari Pak Haji tanya pada Kang Sirin, “Apa kamu punya bibit yang bagus, Rin?” katanya. Tentu, Pak Haji memang paling akrab dengan Kang Sirin. Bukan hanya karena Kang Sirin adalah langganan becaknya selama bertahun-tahun, tapi karena ketulusan dan keriangan Kang Sirin yang membuat Pak Haji betah.

“Kebetulan punya, Pak Haji. Betul lho, yang ini pasti sip. Saya bisa mintakan fotonya.”

Pak Haji tertawa. Nah, dari sinilah keruwetan cerita sebenarnya sedang dimulai.

Kang Sirin telah hampir sepuluh tahun berkeliling di atas becaknya. Mengantar para langganan, terutama para pedagang di Pasar Kecamatan. Seperti halnya Pak Haji, para langganan rata-rata betah ngomong-ngomong dengan Kang Sirin. Mungkin lantaran ia gesit, atau Kang Sirin memang selalu berpakaian bersih, gampang disuruh, ataukah sifat Kang Sirin yang (meskipun tak lulus SD, tak bisa baca huruf latin) tapi selalu dengan wajah riang bisa mengimbangi omongan apa pun. Nah, tentu, dari berbagai “pengetahuan” omong-omong beragam langganan itulah, maka sumber informasi Kang Sirin semakin beragam dan berkembang. Kalau tidak percaya, cobalah datang ke Pasar Kecamatan. Jika ada tukang becak dengan pakaian bersih, yang hapal nyaris seluruh gang di delapan desa, bahkan hapal hampir seluruh nama (mungkin watak orang-orangnya) maka itulah Kang Sirin!

Nah, tiga minggu berselang itulah, ia mendapat langganan baru, yang membuatnya nyambung dengan maksud Pak Haji. Langganan baru itu bernama Marsiti. Tinggal di Desa S., dan konon dia adalah pindahan dari Kota B. Lha kok ya kebetulan, Marsiti juga ngomong hal yang sama. Ia ingat persis ketika itu Marsiti juga bergurau, “Kang Rin, mungkin enak ya kalau punya suami haji?”

“Yang bener, Mbak Mar. Apa Mbak Mar belum punya suami?”

“Ah, siapa yang mau bersuamikan aku, Kang?”

“Lho, Mbak Mar itu cantik kok,” Kang Sirin tertawa. “Maksud saya, ada yang top lho. Tapi duda.”

“Siapa?”

“Haji Jupri.”

“Haji Jupri yang terkenal itu? Wah, ya jangan. Ada-ada saja.”

“Eh, siapa tahu jodoh. Omong-omong, kenapa Mbak Mar cari yang haji?”

“Entahlah. Kang Sirin ini, aku cuma guyon. Awas lho kalo bilang-bilang. ?Kan malu.”

“Ya enggak lah. Dijamin pokoknya. Tapi omong-omong, apa Mbak Mar serius nih?”

“Nggak. Cuma guyon, bercanda! Sungguh.”

Tapi siapa ngira, dari semula cuma bercanda, akhirnya berkembang menjadi rumit? Ini lantaran Kang Sirin merasa nyambung. Merasa klop. Saat Pak Haji bilang tentang bibit, mengeluh tentang perempuan, maka ia langsung bertindak dengan gesit. Nyamperin Marsiti, ngasih penjelasan ini-itu, lalu pinjem fotonya yang paling bagus. Marsiti memang cantik. Tentu saja semula Marsiti menolak, “Apa Pak Haji tahu tentang saya? Saya takut, Kang Sirin. Sungguh.”

“Pokoknya beres. Saya nanti yang akan meyakinkan Pak Haji. Dia orangnya baik. Pokoknya tidak bakal ngecewakan. Sudahlah Mbak Mar. Percaya sama saya,” dengan gayanya yang yakin Kang Sirin setengah memaksa. Tapi siapa sih, perempuan yang menolak usul buat dilamar Pak Haji? Satu hal, Pak Haji Jupri adalah orang terkaya di Desa L., hal lain tentu saja ia duda, terkenal pengajiannya ke mana-mana, dan dikenal berwajah ganteng. Meskipun tentu saja ia sudah sepuh, sudah tua dengan banyak cucu. Tapi kalau kebetulan jodoh, apa mau dikata?

“Jadi, betul Pak Haji tahu tentang saya, Kang Sirin?”

“Beres. Pokoknya biar saya yang jelaskan.”

Kang Sirin percaya. Marsiti pasti baik. Ia tak perlu menyelidikinya lebih jauh. Yang jelas ia cukup cantik, sopan, dan tidak kikir. Amat pas jika nyambung dengan Pak Haji. Lalu kenapa Marsiti takut? Ah, Kang Sirin hanya tertawa. Pastilah semua wanita akan segan dengan Pak Haji. Makanya Marsiti takut.

**

Lalu kenapa akhir kisah yang sesungguhnya cantik dan mulia ini menjadi rumit? Ini dimulai oleh satu lemparan batu pada kap becak Kang Sirin. Betul-betul satu batu, yang melayang, dan hampir membentur kepala Kang Sirin. Kalau saja ia tidak bernasib baik, entah bagaimana nasib Kang Sirin selanjutnya. Persoalannya bukan batu yang melayang, tapi kenapa tiba-tiba ada orang yang melemparkannya, dan itu dilakukan dengan terang-terangan? Di depan pasar, di mana banyak orang yang menyaksikan!

Desas-desus perjuangan Kang Sirin membuat banyak orang menjadi marah. Kang Sirin baru tahu bahwa tidak setiap kebaikan dibalas dengan hal-hal baik. Kebaikan Kang Sirin, dan ketulusannya berjuang untuk menyambungkan Pak Haji, ternyata berbalik menjadi kengerian. Bisa dibayangkan, jika tiba-tiba saja banyak langganan yang cemberut lalu cabut pindah becak lain. Bukankah itu mengerikan? Kang Sirin seumur-umur tidak pernah diperlakukan orang seperti menghadapi barang najis. Kenapa bisa Kang Sirin menyimpulkan bahwa dirinya dianggap najis? Karena orang yang pertama kali melempar batu itu bilang, “Kamu anjing!”

“Menjijikkan!”

“Kafir!”

Anjing? Menjijikkan? Kafir…. Benar-benar mengerikan. Dan orang-orang memang benar-benar memandang jijik. Kang Sirin tetap tak bisa menyimpulkan. Berhari-hari ia cuma melongo. Akhirnya tak berani keluar rumah. Tak berani narik becak. Bahkan, selentingan ia mendengar, orang-orang bakal mengepung rumah Kang Sirin. Subhanallah.

Apa dosa Sirin?

Padahal, tadinya ia cuma mau nolong. Kasihan Pak Haji. Semenjak ditinggal mati istri, ia jadi sepi. Bukankah menolong itu, kata orang tua, juga pekerjaan mulia? Dan kalau yang ditolong itu lantas memberi rezeki, jangan ditolak. “Menolak rezeki itu ndak baik, Rin,” begitu kata kakeknya dulu.

Kang Sirin menganggap Pak Haji orang susah. Sungguh, ia sering mendengar sendiri kesusahan Pak Haji. Setiap kali mengantar sehabis jualan di pasar, ia bilang, “Susahnya kalau orang sudah terlanjur dihormati, Rin. Mau minta tolong carikan istri, bilang ini dan itu, rasanya risih. Jangan-jangan malah dianggap lucu. Disangkanya kalau sudah haji, jadi imam di masjid, diundang ke sana ke mari, sudah sempurna begitu? Aku ini ya laki-laki normal lho Rin…. (Jangan bilang-bilang ya? Nanti dikiranya ndak tabah, repot jadinya). Dipikir-pikir, kok ya mendingan kamu lho Rin. Bebas cari-cari informasi, tanya-tanya, ke sana ke mari, ndak mungkin ada orang cerewet. Anak-anak lagi, sudah gede, sudah pada berumah tangga, kok ya maunya menangan terus. Ada yang bilang malu, ngisin-ngisini, malah yang bungsu bilangnya ndak jelas. Macem-macem lah Rin!”

Sudah jelas ?kan? Kalau orang semacam Kang Sirin saja tiba-tiba bisa jadi tumpuan keluhan Pak Haji, bukankah itu satu anugrah? Sedang Pak Haji orang yang paling terhormat. Amat mulia jika Kang Sirin bisa menolong. “Kang Sirin” lho, bukan Pak Soleh, Wak Katib, atau Lik Zaini yang dikenal orang sebagai ustaz. Nah, karena Kang Sirin tahu dan akrab dengan Marsiti, lalu memandang Marsiti itu baik, apa salahnya menawarkan Marsiti? Toh, kalau Pak Haji tidak mau ya tidak apa-apa. Kang Sirin tidak akan maksa. Edan po? Kang Sirin kok bisa memaksa Pak Haji. Jelas ndak mungkin. Tapi kini, Kang Sirin merasa dipentung kiri kanan.

“Aneh ya Pak Haji itu. Minta tolong malah sama tukang becak. Lantas, kita-kita yang pinter ini dianggap apa? Coba kalau terus-terang sama kita, bisa rame-rame ?kan dicarikan yang bagus, yang pantas. Bukan Marsiti.”

“Melihatnya saja sudah muntah.”

“Sirin saja yang goblok. Sudah enggak bisa baca, kere, eeee mau macem-macem. Kafir!”

“Betul Wak, harus dikasih pelajaran. Wong gendeng, orang gila, mudah-mudahan disamber gledek.”

“Ialah Gusti Allah ngasih cobaan sama Pak Haji. Padahal, apa sih kurang baiknya Pak Haji? Kok sama Sirin saja ketipu.”

“Ini pasti ada dalangnya. Ndak mungkin kalau hanya inisiatif Sirin. Aku menduga kalau ndak kelompok haji mbelgedes Kampung Ciparay ya pasti kelompok Jamaah Pangoragan yang zikirnya jingkrak-jingkrak itu. Mereka sengaja membuat jebakan untuk menjatuhkan kewibawaan Pak Haji. Pokoknya hal ini harus diselidiki hingga tuntas. Aku ndak terima Kampung kita dipermalukan.”

“Kuncinya ya Sirin itu.”

“Digebuk saja. Sekalian beres. Kepalang tanggung!”

**

“Orangnya cantik ?kan, Pak Haji? Kulitnya putih. Tidak gemuk tidak kurus. Orangnya ramah, juga sopan.”

“Punya anak tidak Rin?”

“Tidak Pak Haji. Suaminya dulu meninggal muda. Pokoknya sip Pak Haji, orangnya juga baik.”

“Syukurlah kalau tidak punya anak. Itu yang diharapkan. Sedikit berumur tak apa. Yang penting rumah ada yang ngurus. Tidak terlalu repot kalau habis jualan di pasar. Tapi, o ya, kira-kira apa dia mau dikerudung?”

“Mungkin mau Pak Haji. Dia juga salat kok.”

Kang Sirin mesam-mesem ketika diselipi uang lima puluh ribu. Tak baik menolak rezeki meskipun besar. Hanya ditemani Pak Kadir, kerabat jauh Pak Haji yang amat dipercaya, mereka bertiga berangkat melamar. Tak perlu ribut-ribut. Dan pada hari berikutnya, Kang Sirin ikut jadi saksi. Seumur-umur jadi manusia, pada kali itulah Kang Sirin bisa merasa jadi orang penting.

Daldiri, anak Pak Haji paling bungsu yang masih SMA, malah menolak ketika diajak:

“Mau ikut ke Sindang tidak Ri?”

“Wah, besok ulangan je, Pak!” Daldiri sama sekali tak terpikir kalau hari itu bapaknya kawin. Biasanya, paling banter hanya mengisi pengajian. Sehari setelahnya, ketika Pak Haji tiba-tiba membungkusi pakaian, barulah Daldiri heran sembari tanya, “Mau ke mana sih Pak?”

“Kemarin kamu diajak tidak mau. Bapak sudah kawin, Le.”

Kawin? Itulah yang membikin Daldiri blingsatan, geger. Dalam situasi gawat semacam itu, Daldiri lari ke sana ke mari. Tilpun ke sana ke mari. Lapor pada ketiga kakaknya: Magelang, Solo, dan Temanggung. Jam tiga dini hari, mereka semua berdatangan dan langsung menuju Sindang. Pengantin lelaki diculik! Tanpa ampun. Digeret. Dipaksa untuk ikut. Di Pesantren Bambu Kuning Temanggung, anak-anak langsung mengepung dan menginterogasi. Menyemburkan seluruh kekecewaan, penyesalan, dan keberatan-keberatan yang tak boleh dibantah!

“Yang betul saja tho Le kalau njemput itu. Bikin geger dan kecewa.”

“Justru Bapak itulah yang gak bener. Sudah tua kok ya kurang waskita. Kurang pertimbangan. Asal tangkap tanpa perundingan. Mbok ya ngasih kabar atau gimana, apa sih susahnya? Begini-begini juga anakmu itu dihargai, dihormati. Coba kalau kedengaran santri-santriku di pesantren ini, apa ya ndak memalukan? Bikin lebih geger? Pokoknya tidak ada alasan, detik ini juga harus dicerai! Saya carikan yang bagus. Yang pantas. Yang iman. Kawin kok sama lonte.”

Jangankan Pak Haji, Kang Sirin saja yang jadi pusat cerita tidak tahu kalau Marsiti itu bekas lonte. Ia kenal dan akrab sama Marsiti karena juga langganan becak. Malah kalau dihitung-hitung, ya Marsiti itulah langganan luar kampungnya yang paling jauh. Makanya kalau banyak orang memaki, Kang Sirin sesungguhnya ndak terima. Demi Allah Kang Sirin tidak bermaksud menjerumuskan Pak Haji. Kang Sirin saja barangkali, jika ketemu Marsiti sekarang, kepingin rasanya meludah. Memaki-maki Marsiti dengan kata-kata setan dan najis seperti yang diucapkan orang-orang. Tapi entah bagaimana alur dan konflik ceritanya, akhir-akhirnya Kang Sirin kok yang malah jadi suka sama Marsiti.

**

Konon, menurut data-data yang bisa ditelusuri, Kang Sirin memang bukan tipe orang cerdas. Pada suatu hari Kang Sirin ketemu Marsiti berwajah pucat, berbadan kurus, dan selalu batuk-batuk. Betul-betul amat berubah, sehingga membuat Kang Sirin pangling. Tapi begitu yakin bahwa itu Marsiti, sontak ia ingin meludah. Memaki Marsiti dengan kata-kata “kamu anjing” seperti yang hingga sekarang diucapkan orang-orang pada dirinya. Bahkan ingin Kang Sirin menggampar muka Marsiti dengan batu.

Tapi Marsiti malah belum-belum sudah nangis. Entah rayuan gombal, entah elusan iblis, yang jelas iman Kang Sirin bergetar. Ia tiba-tiba menjadi iba. “Kang Sirin”‘ lho, bukan Pak Soleh, Wak Katib, atau Lik Zaini yang dikenal sebagai ustaz. Bukan lagi makhluk berwujud Kang Sirin kalau melihat adegan yang begitu dramatis itu tidak langsung jadi tragis. Tiba-tiba ia ingin ikut menangis. Dan sejak pertemuan itulah hati Kang Sirin selalu berdesir dan berpikir. Barangkali inilah yang disebut cinta? Entahlah. Yang jelas semua orang semakin jijik jika bertemu Kang Sirin. Semua orang berpikir, kok masih ada orang bebal yang oleh Tuhan dibiarkan hidup? Sudah jelas ditipu, masih sempat-sempatnya berpikir menolong.

“Apakah kalau lonte tobat, tidak boleh kawin?” begitu kata Marsiti. “Bukan berarti setiap lonte tobat itu selalu naik pangkat menjadi germo. Sudah lima tahun Siti berhenti jualan daging begituan. Karena tobat itu bisa tenang kalau Siti kawin, maka Siti kepingin kawin. Siti emoh kawin sama gento. Kawin juga harus dengan orang baik, biar Siti ikut baik. Sukur kalau suami Siti bisa ngaji, biar Siti bisa belajar ngaji. Makanya…,” Marsiti berhenti. Menyusut air mata, “Datangnya tawaran Pak Haji ibarat laron ketemu petromaks. Siti mengira itulah jawaban dari doa-doa tahajud Siti yang tak pernah berhenti untuk meminta. Meminta jadi orang baik. Meminta jodoh yang baik. Siti tak nyangka kalau ternyata akibatnya bisa dikutuk, dipisuh, disebut setan. Dulu banyak orang yang masih memaklumi Siti. Tapi kini….”

Kini Kang Sirin yang bengong. Kini Kang Sirin jadi punya pikiran sakit karena dirinya juga disebut setan. Kalau setan memang harus ketemu setan, mau apa lagi? Jelas setan yang satu ini butuh pertolongan.

“Jadi Mbak Siti ingin bisa mengaji? Dulu Kakek Kang Sirin juga mengajar ngaji. Dan Kang Sirin belajar mengaji di tempat Kakek. Kang Sirin bisa baca Alquran. Itu semua yang diajarkan Kakek Kang Sirin. Kini Kakek Kang Sirin sudah meninggal dunia. Jadi….” Jadi beruntunglah Kang Sirin dulu punya kakek dengan ilmu-ilmu yang baik. Beruntunglah Kang Sirin menjadi santri yang mengerti.

Bayangkan, jika Kakek Sirin dulu sekolah, mungkin sudah dikenal jadi orang pandai. Pandai mengajar, jadi kiai atau setidaknya guru. Jika Kakek Sirin dulu kaya, mungkin sudah jadi haji. Karena haji, maka Kakek Sirin yang jadi imam di mesjid. Seperti Haji Jupri.***

 

Calon Mertua Cerpen: Asyat Akbar

Aku berlebihan? Tidak! Sama sekali tidak! Kamu keliru. Kamu tidak mengerti. Siapa pun, jika menghadapi situasi seperti yang kuhadapi sekarang ini, pasti sama. Pasti tidak beda. Tak terkecuali kamu. Bahkan mungkin semua lelaki. Ya, semua laki-laki dalam perjalanan hidupnya pasti mesti melewati situasi seperti aku alami saat ini. Gelisah. Gugup. Bingung. Takut. Tak percaya diri. Tidak enak makan, tak enak minum. Susah tidur. Ah, pokoknya macam-macam. Berbagai perasaan campur aduk. Semua tumpek blek. Hanya gara-gara urusan perempuan!

Kamu belum mengalami. Coba kamu punya cewek! Lagian, ngapain ngejomlo terus? Apa enaknya sih? Tapi pada saatnya aku yakin kamu pasti kepincut sama seseorang. Entah cewek kece atau biasa-biasa saja. Kamu laki-laki normal toh? Ah, ya! Aku yakin kamu normal. Bukankah kamu pernah bilang bahwa gairahmu bangkit berkobar setiap kali melihat aurat cewek yang diobral-obral ataupun sekadar tersibak? Bahkan kamu juga mengaku suka greng saban kali melihat belahan dada cewek muda dan segar — siapa pun itu! Nah, itu tanda kamu laki-laki normal dan sudah dewasa.

Jadi, mestinya kamu sudah punya cewek. Entah serius entah tidak, seharusnya kamu sudah punya pacar. Dengan demikian, kamu tak akan serta-merta menilai berlebihan situasi hatiku saat ini. Terlebih kalau kamu juga sudah pacaran lama seperti aku sama Mawar, kamu pasti bisa memahami posisiku sekarang.

Yeahhh, mestinya kamu mengerti bahwa ini tidak main-main. Ini pasti serius. Ini pasti menentukan kelanjutan hubunganku dengan Mawar. Coba, buat apa bapaknya tiba-tiba memintaku datang ke rumahnya? Tidak sari-sarinya! Asal kamu tahu, dia — bapaknya Mawar — selama ini tak pernah memberi hati padaku. Belum pernah sekali pun dia bersikap ramah. Selalu pasang tampang kecut. Serem. Seulas senyum pun tak pernah dia perlihatkan. Beberapa kali aku main ke rumahnya — ngapelin Mawar, maksudku — dia selalu bersikap dingin. Kayak gangster di film-film mafia itu lho. Jangankan menegur atau apalagi mengajak ngobrol, bahkan sekadar ucapan salamku saja tak pernah dia jawab, kecuali dengan dengusan pendek dan sumbang: “hmmm”. Padahal sebagai Muslim, mestinya dia mengerti. Ucapan assalamualaikum wajib dijawab secara patut. Bukan dengan dengusan kayak kebo kebelet.

Boleh jadi, itu sikap angkuh seorang yang sukses dan kaya menghadapi pemuda kere macam aku. Sebagai pimpinan sebuah bank papan atas di negeri ini, mungkin dia tak rela hati anak gadisnya kupacari. Jadi, amat wajar dia kelihatan tidak suka terhadapku. Apalagi tampangku tidak keren kayak aktor Nicholas Saputra, sementara wajah Mawar memang cakep. Kamu sendiri bilang, Mawar mirip Dian Sastro dengan bodi semampai macam Luna Maya (padahal menurutku, Mawar lebih mirip penyanyi kesukaanmu, Mulan Kwok).

Jadi, ketika beberapa hari lalu Mawar bilang bahwa bapaknya memintaku datang menemuinya, terang saja aku jadi galau. Aku langsung sudah bisa meraba maksudnya. Tapi tak urung aku bertanya juga pada Mawar. “Ngapain?”
“Tidak tahu. Ayah cuma bilang, dia ingin bicara sama Abang.”
“Soal apa?”
Mawar mengangkat bahu. “Mungkin soal kita, Bang.”
“Maksud kamu?”
“Ya, soal hubungan kita.”
“Hubungan kita bagaimana?”
“Tidak tahu. Aku juga tidak mengerti, Bang.”

* * *

Coba, menurut kamu soal apa yang mendorong bapaknya Mawar merasa perlu memintaku datang untuk berbicara dengannya? Kamu setuju perkiraan Mawar? Ya, ya aku juga setuju. Pasti soal hubunganku dengan Mawar. Ya, soal apa lagi? Hanya soal satu itu yang masuk akal. Lain tidak!

Tapi maksud orang tua itu bagaimana? Apa yang dia inginkan? Memintaku agar menjauhi Mawar? Harus berhenti memacarinya? Bubar jalan? Tidak boleh datang-datang lagi ngapelin anak gadisnya?

Boleh jadi! Dia juga mungkin ingin mengata-ngatai aku sebagai pemuda tak tahu diri. Tidak ngaca. Tidak pantas bermimpi menjadi calon menantunya! Mungkin pula dia ingin mengatakan bahwa aku pemuda bebal. Geblek. Tidak mengerti bahasa tubuh yang dia perlihatkan. Bagi dia, barangkali, mestinya aku mengerti bahwa sikapnya yang tidak ramah, tampang selalu ditekuk kecut, dan sama sekali tak pernah sudi menyapa adalah pertanda dia tak merestui hubunganku dengan Mawar. Kamu setuju?

Tapi apa benar itu karena aku di matanya tidak punya masa depan, sehingga aku dianggap tak layak menjadi calon pendamping Mawar? Ah, masa sih statusku sebagai mahasiswa ekonomi di perguruan tinggi paling bergengsi di Jakarta ini sedikit pun tak memberi kesan padanya bahwa masa depanku tak suram-suram amat? Mestinya dia mengerti bahwa status itu menunjukkan kecil sekali kemungkinan aku kelak jadi gembel. Bahwa kini aku hidup di rantau dengan kondisi serba pas-pasan, itu bukan berarti kehidupanku di masa depan tak layak diperhitungkan. Bukan begitu, kawan?

Atau, jangan-jangan dia mengira Mawar sudah hamil? Ah, naudzubillah! Mustahil! Mungkin kamu tak percaya, aku tak sehina itu. Aku tahu batas. Aku masih bisa mengendalikan diri dalam berhubungan dengan perempuan. Ciuman sih iya. Juga sedikit-sedikit gerayangan, kalau ada kesempatan. Tapi kukira itu masih wajar-wajar saja. Namanya juga orang pacaran. Masak ngobrol melulu setiap kali ketemu. Ciuman atau rabaan, dalam saat-saat tertentu, sungguh tak terhindarkan. Sungguh! Apalagi kalau Mawar sudah memberi isyarat mau ngasih sun. Apa? Berlagak alim? Wah, bisa-bisa aku dibilang bego. Nanti deh kamu mengalami sendiri. Makanya jangan keasyikan ngejomblo terus, kawan!

Tapi apa mungkin bapaknya mengira Mawar sudah hamil? Ah, ya! Mungkin. Itu sangat mungkin. Bisa saja Mawar mengaku-ngaku sudah kuapa-apakan! Sori, aku tak pernah cerita padamu. Mawar pernah bilang akan mengaku hamil andai bapaknya memarahi dan melarangnya berhubungan denganku. Dia mengaku tidak takut melakukan itu. Karena dia tak mau pisah denganku. Dia tak sudi hubungan asmaranya denganku dihancurkan orang lain, termasuk oleh bapaknya sendiri.

Jadi, dengan mengaku hamil, Mawar yakin bapaknya jadi skak-ster. Dengan demikian, bapaknya tak bisa semena-mena membubarkan hubungan cinta kami. Pikir Mawar, kalau sudah tahu anak gadisnya hamil, bapaknya tidak mungkin sampai memaksa dia bubaran denganku. Bapaknya tak akan rela Mawar melahirkan tanpa ada laki-laki yang bertanggung jawab telah menghamilinya. Mawar yakin, bapaknya tak bakal sanggup menanggung malu andai cucunya lahir sebagai bayi haram jadah.

Ya, ya, ya. Tampaknya memang begitu. Ini skenario Mawar. Supaya bapaknya tidak memaksa bubar hubungannya denganku. Tapi justru itu, bapaknya kini jadi berang. Murka. Pantas saja dia memintaku datang menemuinya. Jelas bukan sekadar untuk diajak bicara, seperti kata Mawar. Aku pasti dimaki habis. Sumpah serapah pasti tumpah ruah. Bahkan nama-nama penghuni kebun binatang mungkin dia muntahkan semua.

Itu yang membuatku kini galau tak karuan. Haruskah aku tak menggubris permintaan agar menemuinya? Toh sudah jelas bahwa kemungkinan besar aku diminta datang sekadar untuk dimurkai.

Menurut kamu bagaimana? Mestikah aku diam saja ketika dimaki habis kayak kecoa dilumat ujung kaki, sementara aku tak bersalah sebagaimana dia tuduhkan? Haruskah aku cuma tertunduk pasrah menerima vonis bahwa aku telah menghamili Mawar? Lalu di mana harga diriku sebagai laki-laki? Atau haruskah aku buka kartu bahwa itu cuma bualan Mawar?

** *

Oke, apa pun yang terjadi, aku penuhi permintaan bapaknya Mawar. Aku datangi dia. Sebagai laki-laki, aku tak boleh miris. Harus percaya diri. Aku harus berani menghadapi tantangan sesulit apa pun. Kamu tahu, itu prinsip yang sejak kecil diajarkan kedua orangtuaku. Apalagi risiko yang kuhadapi kecil kemungkinan membuatku masuk kubur. Atau digotong ke rumah sakit. Cuma dimaki-maki kok! Kalau aku bisa tahan diperlakukan bak kecoak atau tikus got, berarti aku bisa menaklukkan tantangan. Selebihnya, mungkin aku diminta segera menikahi Mawar. Ah, itu soal nanti.

Tetapi kalau tak tahan dimaki secara hina, aku mungkin berontak. Tak diam saja. Bagaimana bentuk pemberontakanku, sulit kubayangkan saat ini. Sangat tergantung situasi dan kondisi nanti. Namun aku berharap itu tak melebihi batas kepatutan. Tak membuatku menjadi seorang yang kurang ajar.

Bahwa itu berisiko membuat hubungan cintaku dengan Mawar jadi terganggu atau bahkan berantakan, apa boleh buat. Namun semoga saja Mawar bisa mengerti. Bahwa skenario atau rencana tak senantiasa terlaksana mulus. Selalu ada risiko di luar perkiraan.

* * *

Tak urung aku deg-degan juga ketika Mawar membawaku ke ruang tamu. Batinku galau. Mereka-reka apa yang akan terjadi. Kamu bisa bayangkan, tak lama lagi aku berhadapan dengan singa murka. Niscaya aku langsung dicabik-cabik tanpa ampun.

Hatiku makin kecut ketika singa tua itu muncul di hadapanku. Terlebih setelah Mawar menghilang ke ruang dalam dan tak muncul-muncul lagi. Membiarkan aku berdua dengan singa tua di ruangan itu.

Seperti biasa, sikap singa tua itu dingin. Sama sekali tanpa keramahan. Matanya tajam menatapku. Penuh selidik. Lama sekali kurasa. Aku tak peduli. Aku siap diterkam dan dicabik-cabik.

“Kuharap kamu tak tersinggung,” katanya kemudian. Suaranya dalam dan berat. Mungkin disengaja agar terkesan berwibawa.

Omongan selanjutnya orang tua itu sama sekali di luar dugaan. Membuatku ternganga. Tapi juga melegakan. “Aku tak peduli siapa kamu. Faktor bebet dan bibit bukan masalah. Faktor bobot juga bukan soal teramat penting. Begitu pula soal materi.

Bagiku, siapa pun yang menjadi calon pendamping hidup putriku harus paham agama. Dia juga harus bisa mengaji, rajin shalat dan puasa, juga pandai memimpin doa. Ini tak bisa ditawar-tawar lagi. Ini syarat mutlak. Aku hanya butuh calon menantu yang memenuhi syarat-syarat itu. Lain tidak. Sederhana saja. Karena aku, juga anak istriku, perlu imam. Kami butuh orang yang setiap saat bisa menegur dan membimbing kami ke arah ridla-Nya. Jujur saja, selama ini kami buta soal agama. Jiwa kami gersang. Karena itu, kami amat butuh imam…”***

BASA-BASI

“Adrian, kan?” tanya seorang lelaki paruh baya seraya menyodorkan tangannya mengajak bersalaman.

“Iya,” jawabku rada gagap. Aku bertanya-tanya dalam hati siapa nih Om-Om!

“Lupa ya sama Om?”

“Eeeh?”

“Saya Om Supardi. Tetangga, persis di depan rumah kamu. Dulu ‘kan kita bertetangga 15 tahun yang lalu. Lupa ya?” tanyanya lagi sembari mengingatkan memori otakku yang rada lamban untuk mengenali wajah dan nama seseorang.

“Eh, nggak Om. Cuma kaget aja. Sudah lama tidak ketemu jadinya pangling,” jawabku mengelak persis bajaj yang suka salip sana sini.

“Om kira kamu lupa. Masa’ masih muda sudah lupa?”

“Ah, nggak dong Om,” kilahku lagi.

“Papa dan mama kamu mana?”

“Papa sakit, Om. Mama sedang menemani papa. Jadinya ya saya yang mewakili papa dan mama ke mantenan Tommy dan Tita ini.”

“Oh, begitu.”

“Kuliah di mana sekarang?”

“Sudah lulus, Om. Enam tahun yang lalu dari Teknik Industri ITB.”

“Oh, sudah lulus. Terus sekarang kerja di mana?”

“Jadi fotografer majalah fashion, Om.”

“Lho, kok nggak nyambung?”

“Namanya cari uang, Om. Apa saja dikerjakan,” ucapku sambil mutung. Mau tahu saja nih urusan orang!

“Istrinya nggak dibawa?”

“Jangankan istri, pacar belum punya Om.”

“Lho, kenapa? Kan sudah bekerja, tunggu apalagi? Kasihan papa sama mama kamu lho? Nggak pengen nyusul Tommy dan Tita?”

“Nanti deh, Om.”

“Ya, sudah. Eh, kamu salaman dulu sama Tommy dan Tita. Biar ketahuan kalau kamu datang. Ngobrolnya nanti dilanjutkan ya.”

“Iya, Om.”

Aku segera melangkah menuju pelaminan untuk menyalami Tommy dan Tita. Sahabat sekaligus tetangga yang tengah berbahagia hari ini. Seharusnya papa dan mama juga hadir dalam resepsi ini tapi sayangnya mereka berhalangan, jadilah aku ketiban apes untuk datang ke tempat ini sendirian.

Saat bersalaman dengan orangtua dari kedua mempelai, yang kebetulan aku telah mengenal sejak lama, pertanyaannya sama. Kok, kompak begitu sih? Sudah janjian ya? Kapan menyusul Tommy dan Tita? Halah, memangnya ini balapan? Harus saling menyusul? Ini ‘kan masalah rezeki dari Tuhan. Kalau aku belum dijodohkan dengan perempuan cantik dan seksi, ya aku anggap Tuhan Yang Maha Kuasa belum memberikan restu. He-he-he.

Tadi sebelum bersalaman dengan mempelai dan kedua orangtua, aku baru saja bertemu dengan Om Supardi, tetangga lama yang kini menetap di Bogor. Bete kalau bertemu dengan tetangga atau sahabat lama yang sudah belasan tahun tidak bertemu, pasti pertanyaan seputar itu-itu saja. Pasti dibuka dengan kuliah di mana? Walah, sudah setua ini masih dianggap kuliah? Aku sudah lulus lebih dari enam tahun lalu. Masa sih mereka tidak menyadarinya kalau aku juga sesuai mereka atau anak-anak mereka. Kalau ditanya kapan kuliah S-2 atau S-3 ya tidak apa-apa. Masak usianya hampir menjelang kepala tiga masih harus S-1? Itu sih bukan mahasiswa abadi atau bodoh, mungkin lebih tepat dibilang idiot!

Kalau pertanyaan kuliah di mana sudah terjawab, pasti pertanyaan selanjutnya adalah kerja di mana? Kalau jujur dengan mengatakan pengangguran, pasti ditanya lagi kenapa kok sarjana menganggur? Kalau dijawab bekerja secara freelance dianggap tidak laku bekerja kantoran. Seandainya menjawab bekerja di kantor ini atau itu, pasti ditanya lagi, jadi apa? Kalau hanya staf, pasti dicecar lagi, kapan jadi manajer atau minimal asisten manajer? Halah, cape deh!

Pertanyaan pekerjaan adalah batu loncatan sebelum bertanya sudah menikah belum? Seandainya jujur mengatakan lagi jomblo, pasti dibilang ganteng-ganteng kok jomblo? Terlalu pemilih ya? Kelewat sibuk bekerja ya? Serba salah! Apalagi kalau dijawab sudah punya pacar pasti langsung skak mat, ditanya kapan menikahnya? Tidak kasihan dengan papa mama yang mungkin ingin menimang cucu? Teganya, kalau anak orang dipacari tanpa pernah sekalipun diajak menikah? Walah, kayaknya nggak pertanyaan lain apa ya?

Kalau sudah menikah, pasti pertanyaannya berlanjut dengan kapan punya momongan? Kalau belum punya, disudutkan dengan pertanyaan, jangan suka menunda! Kalau sudah punya satu anak, lagi-lagi masih ada pertanyaan lain, kapan si kecil dikasih adik? Masak hanya punya satu anak sih? Nggak kasihan melihat si kecil jadi anak tunggal? Nanti si kecil jadi manja lho! Aduh, kenapa harus selalu dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu?

Usai bersalaman, aku mengarahkan pandangan ke sekeliling. Mau makan apa ya? Makan salad saja deh sebagai pembuka. Nggak nyambung, nggak apa-apa. Aku segera menuju ke tempat di mana salad tersaji. Aku mengambil secukupnya dan berdiri di tempat yang tidak mengganggu orang. Saat asyik menikmati salad, mendadak bahuku ditonyor seseorang.

“Hai, Adrian. Asyik bener makannya?” tanya pasangan Citra dan Farrell berbarengan.

“Hai, Citra! Halo juga Farrel! Apa kabar?”

“Baik. Kamu sendirian aja?” tanya Citra

“Iya.”

“Istri nggak dibawa?” cecar Farrell

Gedubrak! Pasti pertanyaan itu akan selalu muncul. Please deh, ada nggak sih pertanyaan yang lain?

“Belum punya istri!”

“Nggak punya istri, tapi pacar seharusnya dibawa dong!” sindir Citra dengan halus.

“Belum punya juga.”

“Aduh, bapak Adrian yang superganteng kok masih jomblo sih?” cibir Farrell.

“Maklum deh, masih sibuk!”

“Lho, sekarang kerja di mana?” tanya Farrell.

Tuh, kan pertanyaannya pasti muncul. Semua pertanyaan tadi pasti terlontar, entah mana yang muncul pertama kali atau terakhir kali sudah tidak bisa dipungkiri pasti ada kan? Mati gue!

“Sekarang jadi fotografer majalah fashion!”

“Lho, kamu kan dulu di Teknik Industri ITB. Kok, nggak nyambung gitu sih?” tanya Citra keheranan.

“Rezeki sudah diatur Tuhan, Ibu Citra.”

“Memotret apa aja sih?”

“Sudah pasti model-model untuk majalah. Rubrik fashion. Sesekali ada sesi pemotretan untuk lingerie dan bikini. Bapak Farrell mau ikut lihat model-model top hanya memakai g-string? Kadang ada yang topless lho!” balasku sambil melirik ke arah Citra.

“Adrian, jangan coba-coba ya menjerumuskan suamiku ya,” ujar Citra sambil cemberut.

Aku terkekeh saja.

Usai berbincang dengan Citra dan Farrell, aku menjelajah ruangan yang dipakai resepsi ini, mencicipi hidangan yang tersedia. Aha, ada lontong cap go meh kesukaanku.

Asyik menikmati lontong cap go meh, bahuku ditepuk seseorang.

“Adrian, apa kabar? Masih ingat sama Om Hadi?” tanya seorang bapak seraya menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

“Masih Om. Kayaknya Om Hadi tambah keren nih,” jawabku sambil berbasa-basi.

“Papa dan mama kamu mana?”

“Papa sakit Om. Mama sedang menemani papa. Jadi saya mewakili mereka.”

“Oh, begitu. Sekarang kamu kuliah di mana?”

Mati gue!

“Sudah lulus Om dari ITB.”

“Wah, hebat ya? Terus sekarang kerja di mana?”

Gedubrak!

“Sekarang jadi fotografer majalah fashion Om!”

“Waduh, enak dong, bisa ketemu perempuan-perempuan cantik. Wah, pasti istri kamu foto model dong?”

Halah!

Tuh, kan pasti pertanyaan itu muncul!

“Belum punya Om.”

“Masa belum punya?”

Kalau aku sudah punya istri, sudah pasti orang akan tahu! Masak sih kalau aku menggelar pesta pernikahan, orang-orang tidak akan diundang. Semua teman, sahabat, kolega, tetangga sudah pasti akan mendapatkan undangan. Setidaknya dengan selembar undangan itu, mereka tahu dengan statusku yang tidak lagi sendirian alias sudah beristri! Wah, banyak orang yang tidak paham. Dasar orang Indonesia!

“Belum Om, saya belum punya istri!”

“Tapi pasti pacar kamu model ‘kan? Atau peragawati?”

“Belum punya pacar Om!”

“Adrian, Adrian, kamu memang dari dulu suka bercanda! Nanti kalau ada fotomodel cantik kasih tahu Om ya? Siapa tahu mau jadi istri muda Om!” canda Om Hadi seraya terkekeh dan meninggalkan aku.

Tidak punya pacar dibilang bercanda? Dasar playboy tua ajaib! Aku jujur dengan mengatakan tidak punya pacar eh dibilang bercanda. Terserah deh mau ngomong apa tentang aku, yang penting aku selamat juga dari sederetan pertanyaan basa-basi itu.

Aku jadi malas bertemu orang yang aku kenal di ruangan ini, pasti mereka akan bertanya yang itu-itu saja kepadaku. Bete banget sih hari ini.

Aku melangkah menuju tempat es krim. Di sana lebih banyak anak kecil ketimbang orang dewasa yang mungkin mengenalku.

Menikmati es krim seorang diri sambil sedikit melamun, aku dikejutkan seseorang dari masa silamku.

“The man who loves ice cream.”

Busyet! Aku mengenal suara itu. Jangankan suaranya, semuanya aku mengetahuinya, sifatnya, perilakunya, dan semuanya!

“Halo, Arini, apa kabar?”

“Baik-baik aja.”

Kami lalu melakukan ritual cium pipi kanan dan kiri.

“Sudah lama banget ya?” tanya Arini basa- basi.

Aku berpikir sejenak, hmm lumayan deh. Sudah lebih dari empat tahun, hubungan percintaan kami balik kanan bubar jalan. Arini tidak terima dengan pekerjaanku yang harus bertemu dan memotret perempuan-perempuan cantik yang kadang dipotret tanpa mengenakan selembar kain untuk menutup aurat.

“Iya, sudah lama.”

Aku berpikir mau tanya apa ya sama Arini. Sudah sekian lama aku tidak bertemu dengannya. Rutinitas pekerjaan membuat aku seringkali lupa dengan sosialisasi. Sekarang aku bertemu lagi dengan Arini, karena ia adalah sahabat lama dari Tommy, sedangkan aku pernah bertetangga dengan Tita.

“Kerja di mana sekarang?” tanyaku dengan bodohnya. Aku tidak suka ditanya orang, anda kerja di mana. Eh, sekarang aku malah melontarkan pertanyaan itu. Goblok!

“Masih di tempat yang dulu,” jawab Arini dengan raut wajah penuh tanya. Mungkin ia senewen karena aku mengajukan pertanyaan yang superbasi! Atau bisa jadi ia bete karena aku tidak perhatian lagi dengannya. Masa sekadar cari tahu apa aktivitas dan kesehariannya, aku tidak bisa, mungkin itu yang ada dalam benak Arini.

Aku dan Arini terdiam lagi.

Aku bingung mau bicara apa ya? Bertanya di mana ia bekerja, sudah dijawab? Tanya apa lagi ya? Apakah ia sudah punya pacar lagi? Atau ia sudah bersuami atau mungkin malah sudah memiliki anak? Aduh, kenapa pertanyaan itu? Aku tidak suka dengan pertanyaan itu, terus kenapa aku harus melontarkan pertanyaan yang sama?

Tidak kreatif sekali aku ini, batinku sambil mengutuk kebodohan diriku.

Aku masih memakan es krim sambil terus memikirkan pertanyaan apa yang harus aku tanyakan kepada Arini. Ya, sekadar basa-basi deh. Kok, jadi buah simalakama sih?

“Kamu…?”

“Apa?” ucap Arini balik bertanya

“Eh, jadi lupa!”

“Kamu mau tanya apa? Aku sudah menikah atau belum? Aku akan menjawab belum. Karena itu aku sudah pasti belum punya anak! Kamu mau tanya apalagi? Kalau aku sudah punya pacar atau belum? Sampai detik ini, aku belum menemukan pengganti kamu. Terus mau tanya yang mana lagi? Sejak dulu sampai sekarang, aku tetap bekerja di tempat yang sama. Aku cinta kantor. Kalau kamu mau tahu lagi, aku sekarang sudah jadi manajer senior di sana. Mungkin itu yang akan kamu tanyakan, aku sudah menjadi apa dan siapa di kantor. Ada lagi? Hmm, mungkin beberapa bulan lagi aku akan kuliah S-2 di UI. Siapa tahu kamu akan bertanya, aku akan lebih dulu menjawabnya!”

Aku terdiam sejenak mendengar uraian Arini.

“Kamu tuh nggak kreatif ya? Basa-basi banget! Kamu nggak suka kalau ketemu orang selalu ditanya, kapan selesai kuliah? Kerja di mana? Pacarnya siapa? Kapan kawinnya? Berapa anaknya? Kamu nggak suka kan? Kalau memang iya terus kenapa kamu mulai melontarkan pertanyaan seperti itu kepadaku. Aduh, Adrian yang ganteng, kamu kenapa sih?”

Aku hanya bisa menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.

Skak mat!***

Perumahan Malaka Asri 2, Jakarta Timur, 6 Januari 2007 – Tebet, Jakarta Selatan, 2 Februari 2007

AGNOSIA SENJA

KAMI melanggar peraturan. Seharusnya batas waktu penggunaan kolam renang apartemen adalah pukul delapan, namun lewat dari dua jam yang ditentukan kami justru baru menceburkan diri ke dalam kolam. Saya katakan padanya bahwa saya tidak bisa berenang, saya takut air dan takut tenggelam. Karena itu ia menuntun saya dari sisi depan. Gerakannya sangat tenang, terlihat jelas ia sedang berusaha menciptakan keberanian pada diri saya untuk melenyapkan segala macam ketakutan yang ada. Namun di pertengahan kolam, saya menghilang. Menyelam dengan bebas pada kedalaman dua koma lima meter hingga membuatnya kesal bukan kepalang. Sudah capek-capek menuntun sampai tiga puluh meter jauhnya, ternyata yang dituntun mahir berenang, bahkan menyelam hingga nyaris menyentuh dasar kolam. Maka ia menantang saya menyelam dalam kolam renang berukuran olimpiade ini bolak-balik tanpa jeda, dan menerima tantangannya tanpa berpikir dua kali. *** IA tidak menyadari, saya tak sedikit pun berusaha memenangkan perlombaan ini. Saya terlalu menikmati air kolam yang hangat beradu dengan dingin menusuknya sang bayu. Saya mengayun kedua tangan dan kaki seirama dengan roda waktu, seolah saya diciptakan sebagai makhluk air bernama penyu bermata sayu. Ketika ia telah jauh mendahului saya, tiba-tiba saya berhenti. Sesuatu yang hilang seperti menyeret saya ke belakang serupa jalinan memento, membuat penasaran akan rasanya kematian. Semakin penasaran karena degup jantung tak juga menemukan titik pemberhentian. Saya tak berkedip hingga tiga puluh detik pertama, menanti. Setelahnya menutup masing-masing kelopak mata perlahan, masih menanti. Saya segera mengerti bagaimana rasanya berada di tengah palung menuju alam bawah sadar. Saya dapat mencium aroma kematian: serupa wangi sedap malam yang membusuk, sebagai pengiring dayang-dayang langit berlentera kelam. Saya kesurupan, dirasuki setan malam nan pendiam. Seperti tersadar akan pemberhentian yang tidak wajar, ia menyelam ke arah saya lantas menarik lekas-lekas tubuh yang nyaris tak menyisakan kehidupan ini. Ia mengangkat lalu merebahkan saya di atas gazebo pinggir kolam berkelambu sutra abu-abu. Bertanya: apa, kenapa, bagaimana, atas nama apa. Apa dan apa dan apa dan hanya ada apa. Tidak apa-apa, jawab saya. Ia diam tetapi saya tahu ia bicara, tidak melalui kata-kata yang lahir dari suara. Semilir angin semakin merengkuh saya jauh dari realita menuju kedamaian imitasi. Pelukan tak lagi terasa hangat, malah kelewat panas seperti hendak melebur saya untuk dijadikan santapan tengah malam. Akan tetapi dan terus-terusan hanya ada tetapi, saya ingin, ingin, dan semakin ingin dipeluk oleh ia tanpa harus dilepaskan, tanpa harus lagi-lagi kedinginan. Demi Tuhan. Keinginan saya untuk dipeluk semakin menjadi-jadi, semakin tak tertahankan, semakin sulit dilawan. Dan demi setan saya malah hanya bisa diam, bungkam, bahkan tak mampu berdeham. Mungkin dingin bisa saja membuat saya ngilu, tapi tak seharusnya menjadikan saya bisu. Sekarang saya benar-benar sekarat. Rasanya mau mampus saja buru-buru, tanpa harus dihibahkan kelu seperti itu. Kenapa, kenapa, kenapa, saya bertanya. Tidak akan terjadi apa-apa, semoga saja, saya meyakinkan diri, dan mencari doa. Doa. Datanglah melalui tarian angin mahagemulai. Bisikkan mantra penyuci jiwa lewat telinga dan biarkan ia meranggas di jantung nan rapuh ini tanpa perlu dilukai. Kan kunikmati sayat demi sayat pada permukaannya hingga ruh dan raga sama-sama terkulai. Datang, datanglah, walau tengah malam ini saja. Beri kesempatan agar hati ini mendorong mulut untuk melayangkan suara kepadanya atas nama rasa. Izinkan diri menyampaikan keinginan untuk dipeluk oleh ia, sang pelindung nan setia melagukan kasih penidur, sebagai penawar rasa sakit akan ketidakabadian. Ajarkan jiwa ini menerima segala yang sepatutnya diterima, meski lewat sebait doa. *** SAYA yakin Dia di Atas sana mendengar dan mewujudkan permohonan saya akan kiriman surga bernama doa. Sebab kengiluan tak lagi ada, digantikan bara hangat yang berembus lewat napasnya pada mulut saya. Ia melukis lengkung lidah mesra di dalamnya, sembari dihantui kepanikan akan degup jantung saya yang meski tak lagi ngilu namun semakin melemah dan memberi getaran kecil seolah memohon ampun untuk segera diakhiri. Jantung saya berbicara, mewakili pita suara yang sungguh tak sanggup melahirkan kata. Detik itu pula saya percaya, segalanya akan mati sia-sia sekali pun cinta sebagai peran utama. Saya tahu, keabadian selalu tamat secara berkala dan sudah semestinya saya siap digantung koma. Sepertinya saya memang sengaja disiksa; tak diizinkan hidup secara utuh, mati pun perlu sertifikasi. Terlebih karena seumur hidup dapat dihitung dengan jari seberapa sering saya berdoa demi kebaikan. Ingatan hilang dihantam sunyi. Nyeri membebat kepala hingga meruntuhkan kapabilitas memori. Nyeri itu turut mengendap di setiap persendian, membuat saya terbujur kaku. Saya mati rasa, namun berada di ambang ketidaksadaran justru menguatkan saya untuk tetap bertahan, meski kekuatan itu terletak pada titik tengah kelemahan. Mungkin ini yang dinamakan fase kematian. Sakit yang menegarkan, perih yang membebaskan. Seperti dibuai akan panorama duniawi ketika naik gondola raksasa yang putarannya senantiasa mendebarkan. Ia yang saya cintai masih terus berusaha menciptakan keajaiban, menjemput kehidupan agar kembali menyulut ruh saya yang perlahan memadam. Saya merasa kalut, sebab ruh saya tak mau hidup kembali untuk mencicipi manis cinta yang justru perih di dada karena ketulusannya tak akan mampu terbayarkan oleh saya, manusia pesakitan dengan berjuta obsesi akan kematian. Saya yakin ia akan bahagia justru tanpa saya, tanpa halusinasi saya yang berlebihan, dan tanpa harus dibuat tersiksa karenanya. Tersirat dalam benak yang mulai redup ini untuk menghisap cintanya terlebih dulu sampai habis, sampai ia tak sudi lagi memberi satu keping di antaranya, sampai ia muak dengan perasaannya sendiri, sampai akhirnya tidak memedulikan saya bersama jasad kaku ini di sini. Namun rasanya percuma. Sebab hingga detik ini ia tak putus-putus mentransfer doa dalam lirih bisikan melalui telinga saya sembari mengatakan agar tetap bertahan menguatkan diri dan senantiasa menyadari bahwa ia selalu berada di sisi saya. *** SAYA memang digantung koma, namun bukan berarti tak lagi tersisa air mata. Tetesan itu menyeruak keluar dari lingkar mata serupa guratan pada cabang pepohonan. Saya menangis bukan untuknya, melainkan diri sendiri. Jika harus saya hitung satu demi satu pengkhianatan yang telah saya lakukan di belakangnya tanpa pernah sekali pun ia ketahui hingga hari ini, akan ada lebih dari sepuluh nama yang tertera di dalamnya, lebih dari sepuluh cerita yang nantinya terbaca, dan lebih dari sepuluh hati yang tercabik dan meluka, bagian yang tersulit untuk diobati dengan penawar apa pun kecuali hati itu sendiri. Saya pengkhianat, tapi saya mencintainya. Mencintainya tanpa mengharap balasan namun pada kenyataannya cinta saya kepadanya kalah telak oleh cinta yang ia berikan kepada saya. Tak akan pernah mampu saya mengimbangi perasaannya yang sudah berada di puncak dari segala tingkat. Saya pengkhianat, tapi saya tak pernah meninggalkannya. Ada magnet yang menarik saya dan kutub-kutubnya memompa lembut jantung hati ini untuk terus berdegup setiap kali saya bersamanya. Saya pengkhianat, tapi saya takut dikhianati. Mungkin karena itu tak henti-hentinya saya menyiksa diri dengan berkhianat ke sana kemari, menikmati perih luka pada jiwa-jiwa yang dikhianati, mengais habis kebahagiaan mereka. Saya pengkhianat, tapi pada akhirnya saya tak mendapatkan apa-apa. Saya kehilangan hampir segalanya, dan bukan tak mungkin segera kehilangan ia juga. Seharusnya saya lekas mengakhiri hidup ketika masih menyelam tadi dan menjauh dari jangkauannya agar ia tak bisa menarik saya ke daratan yang alih-alih malah membuat saya tersiksa seperti ini. Atau seharusnya saya tak pernah berkhianat kepada siapa pun, sehingga tak perlu ada balasan semacam ini. Atau seharusnya ia tak mencintai saya lebih dari cinta yang saya berikan, sebab kini jurang perbedaan kadarnya terlihat kian membesar. Selalu ada ”seharusnya”. Seharusnya selalu ada. Saya sempat mengira astana dasamuka mengirimkan musikalisasi dari gending lembah ngarai sebagai lagu pengiring kematian saya, namun suara samar-samar itu terdengar semakin jelas dan bukan gending lembah ngarai yang mendamaikan, melainkan sirine ambulans putih dengan lampu merah nyalang di atasnya. Ruh saya marah. Ia menghujat orang-orang yang berkerumun di sini dan menganggap saya sebagai tontonan cuma-cuma. Ia mengamuk pada dayang-dayang langit berlentera kelam yang tak datang membawanya ke astana dasamuka untuk dibunuh dan dilahirkan kembali. Ia mencabik jantung saya yang degupnya tak juga berhenti sedari tadi. Saya ingin merengkuhnya ke dalam jasad ini kembali, agar kami menyatu lagi dan kelak membenahi segala sesuatu yang telah kami hancurkan hingga porak poranda. Namun ia tak sudi dan malah berteriak lantang tepat mengena di ulu hati saya. Ia tahu, jika ia kembali bersatu dengan jasad ini, saya hanya akan menyiksanya perlahan-lahan dengan menjadi makhluk Tuhan yang terpuji. Tidak akan ada lagi pengkhianatan dan dusta yang kelak melahirkan dosa. Adapun ia terlahir sebagai pendosa sejati. Dosa adalah sumber kehidupannya. Ia akan mengupayakan segalanya untuk bisa memenangkan peperangan dengan jasad saya yang menginginkan kebaikan dan membutuhkan penyucian diri, karenanya saya pasti akan kalah. Di sinilah kali terakhir saya diberi kesempatan untuk memberdayakan akal pikiran sebagai manusia. Saya diberikan pilihan: berperang dengan ruh sendiri selama jasad ini menopangnya kembali demi pembersihan jiwa, atau mengizinkan ruh itu mendapatkan kehendaknya untuk terlepas dari jasad saya selamanya. Akhirnya pilihan saya jatuh pada pilihan kedua. Sebab walau bagaimana pun, saya pasti kalah dan ia selalu menang. Jika saya terus-terusan berperang dengannya tanpa ada titik temu di bibir pintu, saya yakin, ketika suatu saat nanti kesalahan kami terulang kembali, jasad ini telah membusuk bahkan sebelum saya menyadarinya. Saya tak ingin itu terjadi. Saya juga sadar, ruh ini telah berusaha membebaskan diri dari saya sekian lama, namun saya tak pernah peduli, sebab saya mencintai lelaki itu, dan untuk mencintai seorang manusia dengan ruh dan jasad yang saling melengkapi, saya harus tetap hidup dan tidak boleh mati. Saya terharu bahwa pada detik-detik menjelang babak akhir kehidupan ini, masih ada hati yang mencintai saya, yang tidak semata-mata menginginkan saya, meski ia tak berhasil menolong saya. Air mata tak lagi berupa cairan, ia telah menyatu dengan angin, sehingga kekasih saya tak tahu betapa pedih yang saya rasakan saat harus meninggalkannya, sebelum saya sempat mengatakan maaf dan mengecup kelopak bibirnya untuk terakhir kalinya. *** SAYA pasrah. Ruh saya menari-nari gemulai, menyeringai lebar dengan lidah api yang terjulur dari mulutnya. Ia akan dilahirkan kembali nun jauh di sana, di astana dasamuka. Sementara jasad yang selama ini menjadi topangannya, tempat saya merelakan tubuh ini berkhianat ke sana kemari pada tubuh-tubuh yang juga pengkhianat oleh sebab hasrat ruh yang melewati batas, harus rela juga ketika pada akhirnya hanya akan berakhir di kotak kayu pengap dan panjangnya pas-pasan yang dinamakan peti mati.***

Previous Older Entries