Kedudukan Wanita Dalam Islam

Oleh : Zulfa Jamalie

Di antara masalah yang sering dipersoalkan dalam kepustakaan maupun forum 
diskursus, adalah kedudukan wanita dari berbagai sudut pandang dan 
perspektif dalam masyarakat. Dalam masyarakat (adat) Indonesia misalnya, 
kedudukan wanita berbeda-beda. Perbedaan itu setidaknya disebabkan oleh dua 
faktor. Pertama, bentuk dan susunan masyarakat tempat wanita tersebut 
berada. Kedua, sistem nilai yang dianut masyarakat bersangkutan. Sebab, 
sistem nilai adalah konsep yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar 
warga dari masyarakat bersangkutan mengenai apa yang mereka anggap berharga 
dalam kehidupan mereka. Sistem nilai ini sekaligus berfungsi sebagai pedoman 
kehidupan mereka.
Sementara itu, dalam suatu masyarakat yang dibina berdasarkan ajaran Islam, 
otomatis kedudukan wanita sejatinya lebih ditentukan ajaran tersebut. Ajaran 
Islam sendiri memberi kedudukan dan penghormatan yang tinggi kepada wanita, 
dalam hukum ataupun masyarakat. Dalam kenyataan, jika kedudukan tersebut 
tidak seperti yang diajarkan ajaran Islam maka itu adalah soal lain. Sebab, 
struktur, adat, kebiasaan dan budaya masyarakat juga memberikan pengaruh 
yang signifikan.
Beberapa bukti yang menguatkan dalil bahwa ajaran Islam memberikan kedudukan 
tinggi kepada wanita, dapat dilihat pada banyaknya ayat Alquran yang 
berkenaan dengan wanita. Bahkan untuk menunjukkan betapa pentingnya 
kedudukan wanita, dalam Alquran terdapat surah bernama An-Nisa, artinya 
wanita. Selain Alquran, terdapat berpuluh hadits (sunnah) Nabi Muhammad SAW 
yang membicarakan tentang kedudukan wanita dalam hukum dan masyarakat.
Pada masyarakat yang mengenal praktik mengubur bayi wanita hidup-hidup, 
ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW sangat revolusioner, yakni: "Yang 
terbaik di antara manusia adalah yang terbaik sikap dan prilakunya terhadap 
kaum wanita". Atau pula: "Barangsiapa yang membesarkan dan mendidik dua 
putrinya dengan kasih sayang, ia akan masuk sorga". Kemudian: "Sorga itu 
berada di bawah telapak kaki ibu" (hadits).
Dalam catatan sejarah dapat ditelusuri, ajaran Islam telah mengangkat 
derajat wanita sama dengan pria dalam bentuk hukum, dengan memberikan hak 
dan kedudukan kepada wanita yang sama dengan pria sebagai ahli waris 
mendiang orangtua atau keluarga dekatnya. Hukum Islam pula yang memberikan 
hak kepada wanita untuk memiliki sesuatu (harta) atas namanya sendiri. 
Padahal ketika itu kedudukan wanita rendah sekali, bahkan dalam masyarakat 
Arab yang bercorak patrilineal sebelum datang Islam, wanita mempunyai banyak 
kewajiban, tetapi hampir tidak mempunyai hak. Wanita dianggap benda belaka, 
ketika masih muda ia kekayaan orangtuanya, sesudah menikah ia menjadi 
kekayaan suaminya. Sewaktu-waktu mereka bisa diceraikan atau dimadu begitu 
saja.
Fisiknya yang lemah, membuat wanita dipandang tak berguna karena ia tak 
dapat berperang mempertahankan kehormatan. Pandangan ini tentu saja 
merendahkan derajat wanita dalam masyarakat. Kedudukan wanita yang rendah 
itulah, kemudian menjadi salah satu hal yang diperangi dan ditinggalkan oleh 
ajaran Islam.
Menurut ajaran Islam:
1. Kedudukan wanita sama dengan pria dalam pandangan Allah (QS Al-Ahzab:35, 
Muhammad:19). Persamaan ini jelas dalam kesempatan beriman, beramal saleh 
atau beribadah (shalat, zakat, berpuasa, berhaji) dan sebagainya.
2. Kedudukan wanita sama dengan pria dalam berusaha untuk memperoleh, 
memiliki, menyerahkan atau membelanjakan harta kekayaannya (QS An-Nisa:4 dan 
32).
3. Kedudukan wanita sama dengan pria untuk menjadi ahli waris dan memperoleh 
warisan, sesuai pembagian yang ditentukan (QS An-Nisa:7).
4. Kedudukan wanita sama dengan pria dalam memperoleh pendidikan dan ilmu 
pengetahuan: "Mencari/menuntut ilmu pengetahuan adalah kewajiban muslim pria 
dan wanita" (Hadits).
5. Kedudukan wanita sama dengan pria dalam kesempatan untuk memutuskan 
ikatan perkawinan, kalau syarat untuk memutuskan ikatan perkawinan itu 
terpenuhi atau sebab tertentu yang dibenarkan ajaran agama, misalnya melalui 
lembaga fasakh dan khulu', seperti suaminya zhalim, tidak memberi nafkah, 
gila, berpenyakit yang mengakibatkan suami tak dapat memenuhi kewajibannya 
dan lain-lain.
6. Wanita adalah pasangan pria, hubungan mereka adalah kemitraan, 
kebersamaan dan saling ketergantungan (QS An-Nisa:1, At-Taubah:71, 
Ar-Ruum:21, Al-Hujurat:13). QS Al-Baqarah:2 menyimbolkan hubungan saling 
ketergantungan itu dengan istilah pakaian; "Wanita adalah pakaian pria, dan 
pria adalah pakaian wanita".
7. Kedudukan wanita sama dengan kedudukan pria untuk memperoleh pahala 
(kebaikan bagi dirinya sendiri), karena melakukan amal saleh dan beribadah 
di dunia (QS Ali Imran:195, An-Nisa:124, At-Taubah:72 dan Al-Mu'min:40). 
Amal saleh di sini maksudnya adalah segala perbuatan baik yang diperintahkan 
agama, bermanfaat bagi diri sendiri, masyarakat, lingkungan hidup dan 
diridhai Allah SWT.
8. Hak dan kewajiban wanita-pria, dalam hal tertentu sama (QS 
Al-Baqarah:228, At-Taubah:71) dan dalam hal lain berbeda karena kodrat 
mereka yang sama dan berbeda pula (QS Al-Baqarah:228, An-Nisa:11 dan 43).
Kodratnya yang menimbulkan peran dan tanggung jawab antara pria dan wanita, 
maka dalam kehidupan sehari-hari --misalnya sebagai suami-isteri-- fungsi 
mereka pun berbeda. Suami (pria) menjadi penanggungjawab dan kepala 
keluarga, sementara isteri (wanita) menjadi penanggungjawab dan kepala 
rumahtangga.
Menurut ajaran Islam, seorang wanita tidak bertanggungjawab untuk mencari 
nafkah keluarga, agar ia dapat sepenuhnya mencurahkan perhatian kepada 
urusan kehidupan rumahtangga, mendidik anak dan membesarkan mereka. Walau 
demikian, bukan berarti wanita tidak boleh bekerja, menuntut ilmu atau 
melakukan aktivitas lainnya. Wanita tetap memiliki peranan (hak dan 
kewajiban) terhadap apa yang sudah ditentukan dan menjadi kodratnya.
Sebagai anak (belum dewasa), wanita berhak mendapat perlindungan, kasih 
sayang dan pengawasan dari orangtuanya. Sebagai isteri, ia menjadi kepala 
rumah tangga, ibu, mendapat kedudukan terhormat dan mulia. Sebagai warga 
masyarakat dan warga negara, posisi wanita pun sangat menentukan. "Wanita 
adalah tiang negara, apabila wanita baik maka baiklah negara itu, tetapi 
apabila wanitanya buruk, maka buruk pulalah negara itu" (Hadits).
Pengkaji masalah sejarah, pendidikan dan dakwah,
tinggal di Banjarmasin

1 Comment (+add yours?)

  1. buzzgroup
    Jun 06, 2011 @ 12:30:22

    nice, good and meaniable

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: