BASA-BASI

“Adrian, kan?” tanya seorang lelaki paruh baya seraya menyodorkan tangannya mengajak bersalaman.

“Iya,” jawabku rada gagap. Aku bertanya-tanya dalam hati siapa nih Om-Om!

“Lupa ya sama Om?”

“Eeeh?”

“Saya Om Supardi. Tetangga, persis di depan rumah kamu. Dulu ‘kan kita bertetangga 15 tahun yang lalu. Lupa ya?” tanyanya lagi sembari mengingatkan memori otakku yang rada lamban untuk mengenali wajah dan nama seseorang.

“Eh, nggak Om. Cuma kaget aja. Sudah lama tidak ketemu jadinya pangling,” jawabku mengelak persis bajaj yang suka salip sana sini.

“Om kira kamu lupa. Masa’ masih muda sudah lupa?”

“Ah, nggak dong Om,” kilahku lagi.

“Papa dan mama kamu mana?”

“Papa sakit, Om. Mama sedang menemani papa. Jadinya ya saya yang mewakili papa dan mama ke mantenan Tommy dan Tita ini.”

“Oh, begitu.”

“Kuliah di mana sekarang?”

“Sudah lulus, Om. Enam tahun yang lalu dari Teknik Industri ITB.”

“Oh, sudah lulus. Terus sekarang kerja di mana?”

“Jadi fotografer majalah fashion, Om.”

“Lho, kok nggak nyambung?”

“Namanya cari uang, Om. Apa saja dikerjakan,” ucapku sambil mutung. Mau tahu saja nih urusan orang!

“Istrinya nggak dibawa?”

“Jangankan istri, pacar belum punya Om.”

“Lho, kenapa? Kan sudah bekerja, tunggu apalagi? Kasihan papa sama mama kamu lho? Nggak pengen nyusul Tommy dan Tita?”

“Nanti deh, Om.”

“Ya, sudah. Eh, kamu salaman dulu sama Tommy dan Tita. Biar ketahuan kalau kamu datang. Ngobrolnya nanti dilanjutkan ya.”

“Iya, Om.”

Aku segera melangkah menuju pelaminan untuk menyalami Tommy dan Tita. Sahabat sekaligus tetangga yang tengah berbahagia hari ini. Seharusnya papa dan mama juga hadir dalam resepsi ini tapi sayangnya mereka berhalangan, jadilah aku ketiban apes untuk datang ke tempat ini sendirian.

Saat bersalaman dengan orangtua dari kedua mempelai, yang kebetulan aku telah mengenal sejak lama, pertanyaannya sama. Kok, kompak begitu sih? Sudah janjian ya? Kapan menyusul Tommy dan Tita? Halah, memangnya ini balapan? Harus saling menyusul? Ini ‘kan masalah rezeki dari Tuhan. Kalau aku belum dijodohkan dengan perempuan cantik dan seksi, ya aku anggap Tuhan Yang Maha Kuasa belum memberikan restu. He-he-he.

Tadi sebelum bersalaman dengan mempelai dan kedua orangtua, aku baru saja bertemu dengan Om Supardi, tetangga lama yang kini menetap di Bogor. Bete kalau bertemu dengan tetangga atau sahabat lama yang sudah belasan tahun tidak bertemu, pasti pertanyaan seputar itu-itu saja. Pasti dibuka dengan kuliah di mana? Walah, sudah setua ini masih dianggap kuliah? Aku sudah lulus lebih dari enam tahun lalu. Masa sih mereka tidak menyadarinya kalau aku juga sesuai mereka atau anak-anak mereka. Kalau ditanya kapan kuliah S-2 atau S-3 ya tidak apa-apa. Masak usianya hampir menjelang kepala tiga masih harus S-1? Itu sih bukan mahasiswa abadi atau bodoh, mungkin lebih tepat dibilang idiot!

Kalau pertanyaan kuliah di mana sudah terjawab, pasti pertanyaan selanjutnya adalah kerja di mana? Kalau jujur dengan mengatakan pengangguran, pasti ditanya lagi kenapa kok sarjana menganggur? Kalau dijawab bekerja secara freelance dianggap tidak laku bekerja kantoran. Seandainya menjawab bekerja di kantor ini atau itu, pasti ditanya lagi, jadi apa? Kalau hanya staf, pasti dicecar lagi, kapan jadi manajer atau minimal asisten manajer? Halah, cape deh!

Pertanyaan pekerjaan adalah batu loncatan sebelum bertanya sudah menikah belum? Seandainya jujur mengatakan lagi jomblo, pasti dibilang ganteng-ganteng kok jomblo? Terlalu pemilih ya? Kelewat sibuk bekerja ya? Serba salah! Apalagi kalau dijawab sudah punya pacar pasti langsung skak mat, ditanya kapan menikahnya? Tidak kasihan dengan papa mama yang mungkin ingin menimang cucu? Teganya, kalau anak orang dipacari tanpa pernah sekalipun diajak menikah? Walah, kayaknya nggak pertanyaan lain apa ya?

Kalau sudah menikah, pasti pertanyaannya berlanjut dengan kapan punya momongan? Kalau belum punya, disudutkan dengan pertanyaan, jangan suka menunda! Kalau sudah punya satu anak, lagi-lagi masih ada pertanyaan lain, kapan si kecil dikasih adik? Masak hanya punya satu anak sih? Nggak kasihan melihat si kecil jadi anak tunggal? Nanti si kecil jadi manja lho! Aduh, kenapa harus selalu dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu?

Usai bersalaman, aku mengarahkan pandangan ke sekeliling. Mau makan apa ya? Makan salad saja deh sebagai pembuka. Nggak nyambung, nggak apa-apa. Aku segera menuju ke tempat di mana salad tersaji. Aku mengambil secukupnya dan berdiri di tempat yang tidak mengganggu orang. Saat asyik menikmati salad, mendadak bahuku ditonyor seseorang.

“Hai, Adrian. Asyik bener makannya?” tanya pasangan Citra dan Farrell berbarengan.

“Hai, Citra! Halo juga Farrel! Apa kabar?”

“Baik. Kamu sendirian aja?” tanya Citra

“Iya.”

“Istri nggak dibawa?” cecar Farrell

Gedubrak! Pasti pertanyaan itu akan selalu muncul. Please deh, ada nggak sih pertanyaan yang lain?

“Belum punya istri!”

“Nggak punya istri, tapi pacar seharusnya dibawa dong!” sindir Citra dengan halus.

“Belum punya juga.”

“Aduh, bapak Adrian yang superganteng kok masih jomblo sih?” cibir Farrell.

“Maklum deh, masih sibuk!”

“Lho, sekarang kerja di mana?” tanya Farrell.

Tuh, kan pertanyaannya pasti muncul. Semua pertanyaan tadi pasti terlontar, entah mana yang muncul pertama kali atau terakhir kali sudah tidak bisa dipungkiri pasti ada kan? Mati gue!

“Sekarang jadi fotografer majalah fashion!”

“Lho, kamu kan dulu di Teknik Industri ITB. Kok, nggak nyambung gitu sih?” tanya Citra keheranan.

“Rezeki sudah diatur Tuhan, Ibu Citra.”

“Memotret apa aja sih?”

“Sudah pasti model-model untuk majalah. Rubrik fashion. Sesekali ada sesi pemotretan untuk lingerie dan bikini. Bapak Farrell mau ikut lihat model-model top hanya memakai g-string? Kadang ada yang topless lho!” balasku sambil melirik ke arah Citra.

“Adrian, jangan coba-coba ya menjerumuskan suamiku ya,” ujar Citra sambil cemberut.

Aku terkekeh saja.

Usai berbincang dengan Citra dan Farrell, aku menjelajah ruangan yang dipakai resepsi ini, mencicipi hidangan yang tersedia. Aha, ada lontong cap go meh kesukaanku.

Asyik menikmati lontong cap go meh, bahuku ditepuk seseorang.

“Adrian, apa kabar? Masih ingat sama Om Hadi?” tanya seorang bapak seraya menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

“Masih Om. Kayaknya Om Hadi tambah keren nih,” jawabku sambil berbasa-basi.

“Papa dan mama kamu mana?”

“Papa sakit Om. Mama sedang menemani papa. Jadi saya mewakili mereka.”

“Oh, begitu. Sekarang kamu kuliah di mana?”

Mati gue!

“Sudah lulus Om dari ITB.”

“Wah, hebat ya? Terus sekarang kerja di mana?”

Gedubrak!

“Sekarang jadi fotografer majalah fashion Om!”

“Waduh, enak dong, bisa ketemu perempuan-perempuan cantik. Wah, pasti istri kamu foto model dong?”

Halah!

Tuh, kan pasti pertanyaan itu muncul!

“Belum punya Om.”

“Masa belum punya?”

Kalau aku sudah punya istri, sudah pasti orang akan tahu! Masak sih kalau aku menggelar pesta pernikahan, orang-orang tidak akan diundang. Semua teman, sahabat, kolega, tetangga sudah pasti akan mendapatkan undangan. Setidaknya dengan selembar undangan itu, mereka tahu dengan statusku yang tidak lagi sendirian alias sudah beristri! Wah, banyak orang yang tidak paham. Dasar orang Indonesia!

“Belum Om, saya belum punya istri!”

“Tapi pasti pacar kamu model ‘kan? Atau peragawati?”

“Belum punya pacar Om!”

“Adrian, Adrian, kamu memang dari dulu suka bercanda! Nanti kalau ada fotomodel cantik kasih tahu Om ya? Siapa tahu mau jadi istri muda Om!” canda Om Hadi seraya terkekeh dan meninggalkan aku.

Tidak punya pacar dibilang bercanda? Dasar playboy tua ajaib! Aku jujur dengan mengatakan tidak punya pacar eh dibilang bercanda. Terserah deh mau ngomong apa tentang aku, yang penting aku selamat juga dari sederetan pertanyaan basa-basi itu.

Aku jadi malas bertemu orang yang aku kenal di ruangan ini, pasti mereka akan bertanya yang itu-itu saja kepadaku. Bete banget sih hari ini.

Aku melangkah menuju tempat es krim. Di sana lebih banyak anak kecil ketimbang orang dewasa yang mungkin mengenalku.

Menikmati es krim seorang diri sambil sedikit melamun, aku dikejutkan seseorang dari masa silamku.

“The man who loves ice cream.”

Busyet! Aku mengenal suara itu. Jangankan suaranya, semuanya aku mengetahuinya, sifatnya, perilakunya, dan semuanya!

“Halo, Arini, apa kabar?”

“Baik-baik aja.”

Kami lalu melakukan ritual cium pipi kanan dan kiri.

“Sudah lama banget ya?” tanya Arini basa- basi.

Aku berpikir sejenak, hmm lumayan deh. Sudah lebih dari empat tahun, hubungan percintaan kami balik kanan bubar jalan. Arini tidak terima dengan pekerjaanku yang harus bertemu dan memotret perempuan-perempuan cantik yang kadang dipotret tanpa mengenakan selembar kain untuk menutup aurat.

“Iya, sudah lama.”

Aku berpikir mau tanya apa ya sama Arini. Sudah sekian lama aku tidak bertemu dengannya. Rutinitas pekerjaan membuat aku seringkali lupa dengan sosialisasi. Sekarang aku bertemu lagi dengan Arini, karena ia adalah sahabat lama dari Tommy, sedangkan aku pernah bertetangga dengan Tita.

“Kerja di mana sekarang?” tanyaku dengan bodohnya. Aku tidak suka ditanya orang, anda kerja di mana. Eh, sekarang aku malah melontarkan pertanyaan itu. Goblok!

“Masih di tempat yang dulu,” jawab Arini dengan raut wajah penuh tanya. Mungkin ia senewen karena aku mengajukan pertanyaan yang superbasi! Atau bisa jadi ia bete karena aku tidak perhatian lagi dengannya. Masa sekadar cari tahu apa aktivitas dan kesehariannya, aku tidak bisa, mungkin itu yang ada dalam benak Arini.

Aku dan Arini terdiam lagi.

Aku bingung mau bicara apa ya? Bertanya di mana ia bekerja, sudah dijawab? Tanya apa lagi ya? Apakah ia sudah punya pacar lagi? Atau ia sudah bersuami atau mungkin malah sudah memiliki anak? Aduh, kenapa pertanyaan itu? Aku tidak suka dengan pertanyaan itu, terus kenapa aku harus melontarkan pertanyaan yang sama?

Tidak kreatif sekali aku ini, batinku sambil mengutuk kebodohan diriku.

Aku masih memakan es krim sambil terus memikirkan pertanyaan apa yang harus aku tanyakan kepada Arini. Ya, sekadar basa-basi deh. Kok, jadi buah simalakama sih?

“Kamu…?”

“Apa?” ucap Arini balik bertanya

“Eh, jadi lupa!”

“Kamu mau tanya apa? Aku sudah menikah atau belum? Aku akan menjawab belum. Karena itu aku sudah pasti belum punya anak! Kamu mau tanya apalagi? Kalau aku sudah punya pacar atau belum? Sampai detik ini, aku belum menemukan pengganti kamu. Terus mau tanya yang mana lagi? Sejak dulu sampai sekarang, aku tetap bekerja di tempat yang sama. Aku cinta kantor. Kalau kamu mau tahu lagi, aku sekarang sudah jadi manajer senior di sana. Mungkin itu yang akan kamu tanyakan, aku sudah menjadi apa dan siapa di kantor. Ada lagi? Hmm, mungkin beberapa bulan lagi aku akan kuliah S-2 di UI. Siapa tahu kamu akan bertanya, aku akan lebih dulu menjawabnya!”

Aku terdiam sejenak mendengar uraian Arini.

“Kamu tuh nggak kreatif ya? Basa-basi banget! Kamu nggak suka kalau ketemu orang selalu ditanya, kapan selesai kuliah? Kerja di mana? Pacarnya siapa? Kapan kawinnya? Berapa anaknya? Kamu nggak suka kan? Kalau memang iya terus kenapa kamu mulai melontarkan pertanyaan seperti itu kepadaku. Aduh, Adrian yang ganteng, kamu kenapa sih?”

Aku hanya bisa menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.

Skak mat!***

Perumahan Malaka Asri 2, Jakarta Timur, 6 Januari 2007 – Tebet, Jakarta Selatan, 2 Februari 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: