Kalimat Bijak dalam Novel “Garis Perempuan; Empat Wanita, Empat Jalan Hidup”

Imajinasi adalah sebuah kemerdekaan, dimiliki setiap orang, dengan atau tanpa realisasi.

Kesetiaan tidak selalu mudah dijelaskan. Ada yang senantiasa menumbuh seperti tunas-tunas baru pada tangkai menumbuh. ada yang diam tak bergerak seperti batu cadas. Ada yang samar dan hilang timbul serupa bayang-bayang. Ada yang gamang serupa gerak nyala api lilin terdera angin, senantiasa goyah meski tak menyala.

Takdir itu menyimpan misteri, tak bisa kita tolak garisnya. Barangkali yang harus dilakukan adalah bertahan karena bisa jadi garis itu akan membawa kita pada sesuatu hal yang tak terduga.

Kita telah menjadi bagian dari sebuah keluarga. Mungkin akan diperlukan banyak toleransi untuk menjalaninya. Ini ibarat sebuah jalan raya, selama masing-masing berjalan sesuai jalurnya, pasti segala sesuatu berlangsung dengan baik. Sun rise and fall, fame comes and goes, but dream life forever.

Bagi beberapa orang, kemiskinan dan harapan barangkali sebuah permainan, akan terus berulang. Game over, lalu mulai babak baru lagi. Tak peduli naik tingkat atau harus mulai dari awal lagi. Begitu berulang-ulang.

Masalah cukup itu relatif, apa yang cukup bagiku belum tentu sama cukupnya dengan orang lain.

Takdir dan nasib seseorang begitu kompleks, bukan sesuatu yang individual, begitu banyak unsur yang saling terkait di dalam kompleksitas itu sehingga sangat tidak relevan bila menempatkan salah satu unsur di dalamnya sebagai penanggung jawab resiko tunggal.

Banyak dipakai istilah kamuflase untuk menampakkan suatu posisi supaya tampak lebih baik. Padahal. sebenarnya cuma pekerja rendah biasa.

Salon kecantikan serupa bengkel bagi kendaraan. Mereka yang masuk ke dalamnya menyerahkan diri untuk diproses. Kecantikan bagi perempuan adalah napas, seperti oksigen yang harus mereka hirup untuk membuat jantung tetap berdenyut dan sel-sel tubuh tumbuh.

Setiap orang akan menjadi bagian senja itu dan menyimpan keping senjanya sendiri, entah untuk disimpan atau diletakkan di mana pun.

Realisasi atas sesuatu tergantung kemampuan dan kesempatan, bisa sangat jauh dari prediksi.

Jodoh menyimpan banyak hal yang tak terduga. Memilih seseorang sebagai jodohmu seperti memilih kucing dalam karung yang berlapis-lapis. Setiap terbuka lapisan awalnya, akan memunculkan sesuatu yang belum kau ketahui pada mulanya. Lalu kau menduga apa yang ada pada lapisan berikutnya, yang ketika kau buka ternyata tak serupa dugaanmu. Begitulah, setiap lapis kehidupan pasanganmu akan menyimpan misterinya sendiri.

Perkawinan tidak terkonfigurasi seperti tim orchestra, tempat setiap pemusik akan memainkan alat musik bagiannya sesuai arahan konduktor dan mengolah nada sesuai partitur yang ada di depannya.

Kematian, walau bukan sesuatu yang anomali, sering kali menjadi tragedi yang tak terjelaskan dengan kalimat apa pun, betapa pun kita ingin memaparkannya dengan sempurna. Begitulah agaknya takdir bekerja. Menempatkan seseorang pada kehidupan seseorang yang lain. Saling bersimpang jalan, berjalan seiring atau bertolak menuju arah yang berbeda. Pada suatu saat sendiri yang tidak akan selalu terjelaskan, betapa pun tersedia ribuan kata untuk menarasikannya.

Waktu tak pernah terus diikat, dihentikan atau dibekukan. Dia selalu bergerak sesuai takdir dan menggerus apa pun tanpa dispensasi apalagi belas kasihan.

Dinamika kehidupan barangkali ibarat sebuah pasar. Tidak ada harga mati di sana. Ketika kau bersama seorang nanti, akan kuanggap kau hanyalah tersesat. Entah berapa lama ketersesatanmu, kenanganmu terhadapku akan membawamu kembali padaku.

Keperawanan, harga diri, jodoh, dan takdir. Kita manusia biasa pada suatu ketika tiba pada sebuah jenjang dari anak-anak menjadi perempuan. Suatu fase yang dibayangi rasa ingin tahu dan gairah menjalani sebuah kehidupan yang menjanjikan pengalaman baru. Kita semua sedang berada dalam sebuah perjalanan yang tak terduga akan serupa apa berakhir di mana dan kapan. Kita sedang menuju pada sesuatu, seperti proses imigrasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: